MENIKAH DENGAN GUS TAMPAN
Matanya sembab, dan tubuhnya pun lebih lemah dari biasanya.
Abah Gusti hendak ke kamar mandi, seperti biasa, tapi langkahnya terhenti di depan tempat cucian. Matanya menangkap sesuatu—bungkusan kecil putih dengan garis merah yang masih terlihat jelas. Ia memungutnya dengan tangan gemetar.
Seketika dadanya bergemuruh.
“Tespek.”
Gusti berdiri di tempat, napasnya memburu. Ada dentuman kuat di dadanya antara amarah dan kecewa. Ia menggenggam alat itu dengan keras lalu berjalan ke arah dapur.