Jiwa Yang Tertukar
Akan tetapi, tak berapa lama pintu kamar mandi digedor.
"Apa pendarahannya deras?"
Yap, kena! Ia pasti mengira tercecer yang kumaksud adalah darah dari rahim. Padahal yang kumaksud jelas pup, soalnya sudah kebelet buang hajat.
"Tidak, Mas. Hanya mules terus."
"Kalau begitu, lekas keluar dan minum obatnya agar berhenti kontraksi."
Selesai menunaikan hajat, aku segera keluar dengan wajah yang masih meringis.