Cinta yang Kadaluarsa
Mata indahnya yang selalu terlihat penuh kasih sayang itu menatapku, seolah perasaannya begitu dalam.
"Aku keluar sebentar untuk merokok, nanti kita keluar rumah sakit ya."
Mungkin Adrian terlalu percaya padaku.
Atau mungkin dia memang tidak takut aku akan berpikir macam-macam. Lagipula, dia hanya sedang memainkan peran sebagai cowok yang penuh kasih sayang, seperti yang disarankan teman-temannya.
Karena itu, aku ambil HP-nya, yang terus-menerus berbunyi menerima pesan.