Cerita 'Autumn in Paris' tercipta dari perpaduan nostalgia dan imajinasi tentang kota yang seolah tak pernah tidur. Paris selalu punya daya pikat magis—bayangan daun maple yang mengering di trotoar Louvre, aroma croissant hangat di kafe kecil, atau gemerisik hujan di atas Seine. Aku ingin menangkap momen-momen remang seperti itu, di mana kesepian dan keindahan berdansa bersama. Karakter utamanya, seorang pelukis jalanan yang kehilangan muse-nya, adalah metafora untuk semua orang yang pernah merasa terdampar di tengah keramaian. Aku terinspirasi oleh karya-karya Éric Rohmer dan film 'Midnight in Paris' yang menggabungkan realisme dengan fantasi halus.
Yang menarik, justru setting musim gugur dipilih karena sifatnya yang ambigu—bukan musim panas yang ceria, bukan pula musim dingin yang suram. Ini tentang transisi, tentang hal-hal yang menguning sebelum akhirnya rontok. Adegan dimana protagonis menemukan buku harian tua di bouquiniste tepi sungai terinspirasi dari pengalaman pribadiku menemukan surat-surat Perang Dunia II di pasar loak Montreux. 'Autumn in Paris' pada dasarnya adalah surat cinta untuk semua hal sementara yang indah.