Ada satu bagian dalam 'Laskar Pelangi' yang selalu membuatku menatap halaman lebih lama: cerita tentang ayah Andrea Hirata dan pandangannya soal pendidikan di Belitung. Dalam versi yang aku baca, ayahnya digambarkan sebagai sosok yang sederhana tapi punya keyakinan besar bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari lingkaran kemiskinan di pulau kecil itu. Dia melihat sekolah bukan sekadar tempat belajar membaca atau berhitung, melainkan tempat menumbuhkan harga diri, harapan, dan rasa ingin tahu anak-anak yang lahir dari keluarga nelayan dan pekerja tambang timah.
Garis besar cerita ayahnya berkisar pada pengorbanan nyata—mencari uang di tengah ekonomi yang serba sulit, mengatur prioritas rumah tangga agar anak-anak tetap bisa pergi ke sekolah, dan menanamkan nilai bahwa ilmu lebih berharga daripada pekerjaan serabutan yang biasa menjadi warisan generasi. Aku suka bagian yang menggambarkan dialog sederhana antara ayah dan anak: bagaimana ayah menolak menyerah pada nasib, bahkan ketika fasilitas sekolah minim dan guru harus mengajar dengan sarana seadanya. Ada momen-momen hangat ketika komunitas saling bahu-membahu, orang tua bersimpati pada guru-guru yang setia, dan anak-anak datang ke sekolah dengan rasa penasaran yang tak ternilai harganya.
Membaca itu, aku teringat betapa kuatnya efek keyakinan seorang orang tua terhadap masa depan anaknya. Narasi ayah Andrea bukan hanya soal mendorong anak ke bangku sekolah, melainkan juga soal membangun budaya penghormatan terhadap belajar di tengah keterbatasan. Itu membuat ceritanya terasa universal: di mana pun kita berasal, pendidikan punya kekuatan mengubah perspektif dan membuka kesempatan. Setelah membaca, aku merasa terinspirasi untuk menghargai guru-guru kecil di daerah, dan mengingatkan diri sendiri bahwa dukungan moral dari keluarga seringkali sama pentingnya dengan buku dan papan tulis.