Tulang wangi
Gua reflek berdiri, kursi kayu nyeret bunyi.
“Innalillahi... kapan meninggalnya?”
“Cikeneh, Jang. Lima belas menitan tadi.”
Hati gua langsung nyesek. “Sakit apa?”
Mereka saling tatapan, wajahnya ragu. “Duka atuh. Permisi, Jang, punten!”
Mereka buru-buru jalan lagi.
“Iya, Kang. Mangga...”
Gua masih diem, mata ngikutin langkah mereka sampai hilang di ujung jalan.
Bab Populer