Aku pernah terhipnotis membaca berbagai riwayat yang membahas kenapa Fatimah dikenal sebagai 'Fatimah az-Zahra', dan setelah menggali sumber-sumber lama aku mulai melihat dua garis besar penjelasan yang sering muncul.
Pertama, secara bahasa 'Zahra' terkait dengan akar kata Arab Z-H-R yang membawa makna 'bersinar', 'mekar', atau 'terang'. Beberapa sejarawan bahasa menunjukkan bahwa gelar ini mencerminkan sifat yang dikaitkan dengan Fatimah—kesucian, kebersihan moral, dan kecemerlangan spiritual—yang membuat orang-orang di sekitarnya memberi julukan itu. Dalam tradisi Muslim, baik Sunni maupun Syiah, terdapat teks-teks sirah dan himpunan hadits yang menyebutkan keistimewaan Fatimah; sejarawan yang menelaah kronologi sumber menyimpulkan bahwa julukan bisa jadi muncul mula-mula sebagai ungkapan penghormatan lisan lalu melekat secara tertulis pada generasi selanjutnya.
Kedua, beberapa peneliti menekankan peran perkembangan puitik dan teologis: seiring wacana tentang keluarga Nabi berkembang, gelar-gelar kehormatan seperti 'az-Zahra' dipakai untuk mempertegas posisi simbolis dan spiritualnya. Ada juga perbedaan redaksional dan variasi penulisan di manuskrip yang membuat asal persisnya sulit ditentukan sejauh mana ia diberikan semasa hidup Fatimah sendiri atau dikembangkan pascahumous. Bagiku, menarik melihat bagaimana bahasa dan penghormatan sosial bergabung membentuk satu gelar yang bertahan sampai sekarang.