Istri Lima Belas Ribu
Jeritan kubuat lirih agar tidak terdengar oleh Bapak dan Ibu.
“Kamu akan tahu pembalasanku setelah kita menikah,” bisiknya, berhasil mengundang debar yang semakin menggila.
Azan magrib berkumandang. Seperti biasanya, Dinta dan danis sudah siap berangkat ke mesjid yang hanya berjarak lima puluh meter dari rumah.
“Habis magrib harus pulang, lho!” usirku pada Pak Irsya.
“Lihat nanti,” jawabnya santai sambil berlenggang pergi. “Ayo, Kakak, Adek. Kita ke mesjid,” ajaknya pada kedua anakku.
Hot Chapters