Lagu 'Ya Nurul Hilal' selalu mengingatkanku pada momen-momen nostalgia. Liriknya yang puitis seolah menggambarkan keindahan bulan sabit (hilal) sebagai metafora harapan. Ada nuansa religius yang kental, tapi juga universal—siapa saja bisa merasakan kedamaian dari pesannya. Aku sering mendengarnya saat kecil, dan sekarang baru menyadari betapa dalam maknanya: tentang cahaya dalam kegelapan, tentang penyatuan dengan yang ilahi.
Yang menarik, lagu ini juga populer di acara-acara tradisi seperti maulid nabi. Bunyi rebana yang mengiringi menambah kesan sakral. Bagi sebagian orang, 'Nurul Hilal' mungkin sekadar simbol bulan, tapi bagi yang meresapi, ia adalah representasi cahaya ilahi yang selalu hadir di tengah kehidupan yang penuh lika-liku.