Gerimis Bulan Desember
Batinku keenakan.
“Enak?” tanya Inu seperti membaca pikiranku.
Aku menelan sisa kunyahan. “Nggak, asin!”
“Masa sih?” Inu menyendok nasi dari piringku dan memakannya.
“Lah bukannya sama aja nasiku dan nasimu?” tanyaku bingung.
“Iya sama, tapi indra perasanya beda. Hem, kayaknya punyamu asin karena kamu belum dikecup bibirku,” celoteh nggak jelas Inu, lantas mendekatkan bibirnya, “sini Dek!”