KUBUAT KAU MENGEMIS CINTAKU
Mas Iqbal mendekat sambil berjalan dengan memasukkan kedua tangannya pada saku hoodie yang dia kenakan semenjak turun dari mobil tadi.
“Dia adalah perempuan yang hatinya kamu lukai dan kamu tinggal nikah dengan saudari kandungnya sendiri. Dan … statusnya sekarang adalah kakak ipar kamu, Imam. Coba, sesekali kondisikan ucapan kamu, meski lidah memang tak ada tulangnya dan bebas mengumbar janji, atau kamu akan berurusan dengan saya, calon suaminya Diva?” Kalimat panjang itu diucapkan dengan datar. Namun tiap kalimatnya mengandung nada penekanan. Mas Iqbal mendekat ke arahku dan lantas meraih jemariku. Hal yang tak pernah kami lakukan sebelumnya membuat rasa hangat dan seperti sengatan listrik