O, Yang Mulia!
"Apa kau punya mode suara yang lain? Kau tahu, suara gadis yang lembut, atau tante-tante yang menggoda, begitu."
“"..."”
"Hmm?"
“"Maafkan saya, Tuan O."”
"Aaaargh!" O kini menjerit. Ia frustasi. Fantasinya hancur. Ia sempat membayangkan suara seorang narator perempuan yang lembut dan centil yang memanggil namanya dengan nada imut; atau suara perempuan dewasa yang tegas dan penuh karisma. Akan tetapi, yang didengarnya barusan adalah suara laki-laki yang amat berat, sangat jantan, dan macho. O jadi membayangkan seorang pemain gulat profesional penuh otot memanggilnya dengan nada centil dan otot dada yang berkedut-kedut bergantian.