BUKAN MENANTU KAYA
“Iya juga, Dek. Kok Mas nggak kepikiran, ya?“ katanya sambil tertawa pelan.
Mas Hasan keluar ruangan, menelpon Appa. Aku sendiri hanya duduk, membuka ponsel. Menambah bab di cerita bersambungku. Banyak sekali pembaca yang komentar. Mereka gemas dengan tokoh mertua dan ipar di ceritaku. Satu komentar membuat mataku membulat sempurna. Komentar dari akun Ningrum Khalillah, adik iparku.
[Kasihan banget sih. Coba kalau kamu jadi iparku, pasti kamu bakalan bahagia]
Seketika perutku terasa mual. Apa dia tak tersindir sedikitpun dengan cerita yang kubuat?
[iya Mbak, kasihan banget. Tapi Allah nggak pernah tidur. Suatu saat akan ada pembalasan untuk mertua dan para ipar toxic.] aku membalas komentarn
Bab Populer