Pendekar Pedang Naga
Di sekelilingnya, langit hitam dipenuhi serpihan memori yang melayang bebas: ibunya tersenyum saat ia kecil, Kakek Suma memarahi murid-murid dengan keras, Arsel berdiri bersamanya di bawah hujan…
Tapi semua itu mendadak terbelah dua.
Dari dalam gelap, terdengar erangan dalam. Suara berat, tua… dan marah.
“Akhirnya kau datang.”
Sosok itu muncul, perlahan membentuk dirinya dari kepulan asap dan sisik hitam yang memantulkan kilatan petir.
Seekor naga raksasa, tubuhnya seperti malam yang dibakar dari dalam. Matanya—dua bara merah yang tak memancarkan kehidupan, hanya penghakiman.