Terjebak Menjadi Istri Sang Bos
yang nyata.
Ruangan itu dilapisi karpet bulu tebal berwarna hitam yang meredam setiap langkah kaki. Di sudut-sudutnya, terdapat berbagai instrumen yang membuat wajah Aruna seketika memanas sekaligus pucat pasi karena ngeri. Ada kursi kulit dengan pengikat pergelangan tangan yang dingin, deretan cambuk sutra yang tertata rapi di dinding beludru, hingga sebuah ranjang besar dengan tiang-tiang besi kokoh yang tampaknya dirancang untuk menahan rontaan apa pun. Atmosfer di sini sangat berbeda, seperti berat oleh aroma kulit, lilin aromatik yang tajam, dan ketegangan hasrat yang begitu kental hingga Aruna merasa sulit untuk sekadar menelan ludah.
Leonardi menutup pintu kayu ek di belakang mereka.