Pembalasan Sang Dokter Jenius
Ia menyeruput kopinya lagi, menikmatinya tetes demi tetes.
Tiba-tiba, sebuah ide cemerlang terlintas di benaknya. Ia menatap Joko dengan mata yang berbinar.
“Wah, kalau begini ceritanya,” kata Adam dengan semangat. “Kalau nanti Pak Bos Besar, minta dibuatkan kopi, kau saja yang buatkan, Jok! Jangan pakai mesin itu. Pak Sanusi itu seleranya tinggi sekali. Kalau dia sampai mencicipi kopi buatanmu ini, wah, bisa-bisa lu langsung diangkat jadi barista pribadinya!”