Sentuhan Diam di Kereta Kota
Mendengar kata-katanya yang pura-pura perhatian, aku merasa jijik dan berkata dengan santai, "Sudah sembuh."
Dia menaruh makanan di piringku dan berkata dengan penuh nostalgia, "Kita sering datang ke restoran ini saat pacaran."
"Ya, kita sering ke sini."
Aku mengangguk dengan ekspresi kaku dan mati rasa, dan sebelum dia sempat lanjut berkata, aku melemparkan surat perjanjian cerai itu ke hadapannya.
"Tapi nggak ada kesempatan datang bersama lagi, Yosef, kita bercerai."