KINASIH
Para petani membawa cangkul dan 'alat tempurnya', anak-anak berlarian pergi ke sekolah dan ada pula kaum wanita yang bergerombol di pinggir jalan, menanti tukang sayur sembari bergosip ria.
Sebenarnya, desa nek Ijah bukanlah desa terpencil. Letaknya juga tak jauh dari jalan raya yang ramai, serta barisan ruko yang perlahan menjamur. Mungkin, lima atau sepuluh tahun mendatang, sawah-sawah di sana berubah menjadi gedung bertingkat, rumah pribumi mulai tergusur oleh kedatangan warga baru dari luar desa.
Asih mengamati semuanya dengan hati trenyuh. Membayangkan bagaimana para warga yang terbiasa hidup tenang dan nyaman, harus berbagi lahan dengan para tuan tanah yang —serakah.
Hot Chapters