Gadis Desa di Antara Pria Perkasa
lanjut Leo, yang bukannya membela, justru makin menguliti luka lama.
Pintu kayu berderit pelan. Mbak Sri melangkah keluar. Daster batik lusuh yang dikenakannya melambai ditiup angin pagi. Tubuhnya gemetaran hebat, badannya terasa dingin, dan matanya berkaca-kaca menahan lelehan air mata serta rasa malu yang menumpuk di dada saat menjadi pusat perhatian seluruh warga kampung.
Belum sempat Mbak Sri bersuara, Marni maju beberapa langkah dari kerumunan. Tangan kanannya terangkat tajam, menunjuk tepat di depan muka Mbak Sri.