Adik Ipar, Jangan Terlalu Dalam
“Aku cuma bilang, kalau kamu mau melepaskan, lakukan itu di tempat ini. Berteriak kalau perlu. Teriakkan semua yang menghancurkanmu. Teriakkan supaya suara itu mengusir semuanya keluar dari paru-paru, dari kepala, dari hatimu. Aku akan dengar. Aku nggak akan menghakimi.”
Sasha menutup mata. Napasnya pendek, berantakan. Di dalam dadanya, sesuatu yang beku mulai mencair, bukan karena belas kasihan, tapi karena kecapekan menahan. Ia menarik napas panjang, dua, tiga—seolah memompa nyali untuk melakukan sesuatu yang sejak lama ditakutinya.
“Nggak ada yang akan mendengar kita di sini,” bisik Arka. “Nggak ada mama, nggak ada gosip yang akan menyebar. Hanya angin, dan aku.”
Sikat na Kabanata