Antara Cinta dan Luka
Ia duduk di sudut ruang latihan, di antara tumpukan kabel dan aroma debu bercampur cat, mengingatkannya pada studio kecilnya di Tebet.
Saat membereskan partitur, ia melihat tas Rian yang terbuka di kursi sebelah. Sebuah map cokelat tua mencuat, dan saat ia menariknya, nama Budi Santoso tercetak tebal di sampul, dengan catatan tentang "proyek musik" dan "kerahasiaan." Jantungnya seperti dihantam palu. Tapi yang membuatnya membeku adalah foto kecil yang terselip di antara kertas—ayahnya, lebih muda, berdiri di samping pria lain yang samar, di depan studio tua.
"Ayahku?" gumamnya, tangannya gemetar, ingatan pengkhianatan Budi Santoso membanjiri seperti air bah.