Kontrak Rahasia Guru Tari
Lastri melirik ke sekelilingnya, lalu dengan datar berkata, “Setelah kelasmu selesai, aku menunggumu di kafe seberang.”
Usai bicara, dia berbalik dengan anggun dan pergi dengan sepatu hak tingginya.
Aku membeku di tempat, merasa seluruh tenaga di tubuhku telah terkuras habis.
Di sisa setengah jam kelas berikutnya, aku benar-benar tak fokus mengajar.
Otakku terus-menerus memikirkan skenario terburuk. Aku harus bagaimana kalau dia memukul dan memakiku? Haruskah aku berlutut dan memohon ampun padanya?