Hadiah Kelulusan dari Ayah Angkat
"Kenapa diam saja? Apa harus kuperiksa, biar tahu sendiri jari yang membuatmu nggak bisa tidur semalam itu panjang atau pendek?"
"Cicipi rasamu sendiri."
Di kantor wakil direktur rumah sakit, dokter pembimbingku sedang berdiri di luar pintu, sementara aku di dalam ditindih ke dinding oleh ayah angkatku, Juna Narendra.
Aku mengenakan seragam perawat ketat yang dia buatkan khusus untukku, sangat pendek menyentuh pangkal paha saja. Payudaraku yang montok ukuran 36E tertekan hingga berubah bentuk di balik jas putih itu. Celana safety aku sudah robek paksa oleh tangan besarnya yang panas dan kasar. Jari-jarinya yang panjang bergerak masuk-keluar dan menggesek dengan liar di balik lapisan kain terakhir yang basah kuyup.
Di usia 21 tahun, padahal aku punya pacar yang bersih dan polos. Kini, di bawah dorongan yang tidak bisa kutolak dari ayah angkatku, kedua kakiku tanpa sadar melingkar erat di pinggangnya, dan aku kehilangan kendali, mencapai klimaks dengan rasa malu yang mendalam.
Saat jari yang dipenuhi cairan kenikmatanku yang lengket itu mendekati bibirku, aku tanpa sadar menjulurkan lidah ....