Rayuan Maut Para Tetanggaku
bisiknya, suaranya sedikit gemetar namun penuh damba.
Aku tidak menjawab.
Aku menghampirinya dalam dua langkah besar, mencengkeram pinggangnya dengan posesif, dan mengangkatnya hingga kakinya melingkar di pinggangku. Aku menyudutkannya ke dinding kaca yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu Singapura di kejauhan.
"Aku baru saja melihat bagaimana manusia bisa menjadi monster demi hidup selamanya, Sab," geramku rendah di ceruk lehernya. "Dan sekarang, aku butuh merasakan bahwa aku masih manusia. Aku butuh kamu."