Selubung Memori
“Kadang aku ingin memberitahu kalau kau tidak perlu marah saat namaku dijelekkan. Tapi kadang aku juga marah kalau kau diremehkan. Yah, mungkin kita punya prinsip masalahmu, ya, masalahmu, masalahku, ya, masalahku, tapi ternyata realisasinya sangat sulit. Aku bakal bantu memulihkanmu.”
“Kalau punggungmu, bagaimana?” tanyaku.
“Sudah ringan.” Lavi cemberut, mengerucutkan bibir. “Jahat. Bisa-bisanya kau tidur saat aku disiksa Isha. Tidakkah kau harusnya menyemangatiku?”
“Sungguhan oke?”
“Kau tidak percaya padaku?”
“Jalanmu agak pincang.”
Hot Chapters