Makin Lama Makin Asyik
Sial, siluman satin hijau itu tidak hanya menuntut tumbal di Sukarami, dia juga mulai menebar jaring terornya ke kota kecamatan ini, batin Bhaskoro geram menahan ngeri.
“I-iya, Bang. Terima kasih banyak atas sarannya,” sahut Diana parau, mencoba mengusir rasa cemas. “Eh, Abang sendiri setelah sarapan ini mau ke mana lagi?”
“Paling... langsung pulang ke rumah. Kenapa, Diana?”
“Tidak ingin mampir dulu ke rumah aku dulu Bang?” pancing Diana.
Sama seperti Surti dan Kades Ratna, wanita cantik ini agaknya telanjur terpesona oleh perawakan jantan, gaya dingin, serta aura misterius yang keluar kuat dari tubuh kokoh Bhaskoro ini.
Sikat na Kabanata