DOSA TERINDAH
Namun rupanya bukan hanya aku yang kini menyadari apa yang sedang terjadi, karena kini, telapak tangan lebar yang sudah sangat kukenal itu melingkari bahuku, mendekapku yang sedang menangis dan mengadu pada ibu.
Ibu merestui kami.
“Ibu sudah dengar dari adikmu, Nak. Maafkan ibu ....”
“Nggak, Bu. Jangan meminta maaf pada Aya, Ibu tidak punya salah pada Aya. Harusnya Aya yang minta maaf. Aya ....”
Suaraku tertahan oleh tangis.
“Ibu tau kamu bahagia dengannya, Nak. Maafkan ibu yang selama ini menutup mata.”