Air Mata di Antara Bunga
ucap Rangga tegas.
Aku terbelalak. Dunia seakan berhenti berputar.
Bukankah dulu dia yang berkata, wanita lain punya mahar, aku juga akan punya, bahkan lebih?
Bukankah dulu dia berniat memindahkan separuh saham perusahaannya atas namaku, sebagai mas kawin?
Namun kini, dengan kata-katanya barusan, entah keguguran atau tidak, aku tahu, dalam hatinya, aku sudah divonis sebagai wanita kejam. Mahar itu tak akan pernah lagi menjadi milikku.