Anakku Bukan Anakku
Kedua mata Mila terbuka lebar, nafasnya memburu dengan keringat yang membasahi wajahnya.
Ia menoleh ke segala penjuru, mencari sosok yang baru saja dilihatnya.
“Roti! Roti!”
Suara yang begitu familiar di telinga, kerap didengar Mila setiap pukul sepuluh pagi, yang artinya baru saja ia bermimpi.
Mila memaksa bangun dengan perlahan, seluruh tubuhnya benar-benar nyeri.
Ia mengusap satu tangannya, dimana memar merah itu terlihat.