MADU YANG BERACUN
Dia memukul setir.
“Namun, mereka lupa, sebagus apapun bungkusnya, tetap saja tidak bisa menutupi luka yang sebenarnya.” Mata Embun memanas. Namun, ia menahan agar genangan itu tidak lolos lagi. Napasnya putus-putus.
“Ini hanya soal perspektif, namun dampaknya begitu nyata. Orang bilang aku dimadu,” lanjutnya dengan napas tertahan. “Tapi aku menyebutnya diracun. Ya, itu lebih tepat!”