SANG MENANTU TERBUANG
Lampu-lampu neon redup berkelip-kelip di langit-langit yang tinggi, menampakkan ruangan luas yang kosong, hanya berisi beberapa peralatan olahraga tua dan target tembak di kejauhan.
Di tengah ruangan, duduklah seorang pria tua di kursi kulit tua. Pria itu tampak kurus, tetapi tatapan matanya tajam dan menusuk. Ia mengenakan kemeja batik yang sudah usang dan celana bahan, tetapi cara ia duduk memberikan kesan kekuatan yang tersembunyi. Itulah Kakek Pranata.
“Selamat datang, Pewaris,” sambut Kakek Pranata, suaranya parau namun penuh wibawa, tanpa menoleh. Ia sedang membersihkan sebuah pistol tua dengan gerakan yang cekatan.
الفصول الرائجة