SUJUD TERAKHIR EMAK
suaranya tercekat, “jangan kan umroh, To… bisa makan lauk sekali sehari saja, sudah saya syukuri. Saya pikir, ya sudah… bukan rejeki saya buat ke Tanah Suci…”
Pak Anto menunduk, menatap lantai. Ia juga hampir menangis. “Tapi sekarang sudah waktunya. Saya cuma pengantar. Allah yang ngirim rezeki itu lewat siapa saja. Dan kali ini, saya cuma disuruh jadi perantara untuk memberangkatkan Mbak.”
Mak Asih terduduk kembali di ranjang. Ia menciumi tiket itu, memeluknya seperti anak kecil memeluk mainan barunya. Suara tangisnya tertahan oleh isak yang terlalu dalam.