Menutup Pintu Masa Lalu
Namun, aku bisa melihat sendiri urat di punggung tangannya menegang, wajahnya masam seakan ingin menyeret Peter dan menghajarnya langsung.
Ibu memeluk dan menenangkanku, “Sudahlah, sudah pulang ke rumah, nggak perlu lagi mengingat hal-hal menyedihkan itu. Hanya sebuah kalung berlian saja, bukan masalah besar. Biar aku belikan beberapa untukmu, kamu bisa pakai bergantian setiap hari.”
Rasa sakit hati yang sempat muncul karena mengingat masa lalu pun memudar perlahan. Aku sampai tertawa di sela-sela tangis, lalu akhirnya tidur dengan nyenyak malam itu.