Buncitnya Jenazah Kakakku
tanyanya sedikit menekan pipiku dengan kain.
"Ya sakitlah, bodoh!" ketusku memanyunkan bibir.
Zhafran terkekeh beberapa saat, lalu fokus memperhatikan bibirku.
"Apa?" seruku.
Zhafran mengigit bibirnya sendiri. "Btw, yang tadi manis juga. Pengen lagi," ucapnya sembari terus fokus ke bibirku.
Sontak saja aku menatapnya tajam. "Jangan macam-macam, yah, Zhaf, kalau nggak gue teriak!" peringatku.