Ada satu adegan di 'The Devil Wears Prada' yang selalu bikin aku merenung: saat Miranda Priestly dengan dingin bilang, 'Bukan pilihan, itu tanggung jawab.' Kutipan 'menyenangkan semua orang itu mustahil' terasa seperti versi lebih manusiawi dari filosofi itu. Dalam film, ini sering muncul ketika protagonis akhirnya sadar bahwa mereka terlalu sibuk mengikuti ekspektasi orang lain sampai kehilangan jati diri. Contohnya di 'Whiplash', Andrew nekat memaksakan diri demi pengakuan dari Fletcher, tapi endingnya justru dia menemukan batas antara obsesi dan passion.
Yang menarik, konsep ini jarang disampaikan secara eksplisit. Biasanya ditunjukkan melalui konflik visual—adegan where the character breaks down di tengah kerumunan, atau ketika mereka memilih satu hubungan dengan mengorbankan yang lain. 'Little Miss Sunshine' menggambarkannya dengan jenaka tapi menyentuh: keluarga itu terus dicemooh, tapi pada akhirnya mereka bahagia karena jadi diri sendiri.