Terjebak Cinta Kakak Tiri
Ia membuka kembali catatan lama, mencoret satu baris, menulis satu kalimat baru:
“Mencintai bukan hanya tentang memiliki, tapi tentang mengerti kapan harus berhenti menunggu.”
Ia menatap bangku kosong di seberang. Tempat Jasmin biasa duduk, menyelipkan rambut ke belakang telinga, dan menggumamkan puisi-puisi kecil yang hanya mereka berdua pahami.
Tempat itu sekarang hanya bangku kayu biasa.
Bukan kenangan.
Bukan harapan.
Dan mungkin, memang saatnya melepaskan versi masa lalu yang tak lagi bisa diselamatkan.