Sang Penentang Aturan
Murid-murid duduk bersila di atas batu datar di tepi danau, sebagian berada di bawah curahan air terjun yang dingin menggigit.
“Air ini membawa napas dunia,” ujar Rio. “Jika kau bisa mendengar bisikannya, maka kau akan mengenal dirimu sendiri.”
Suara air begitu deras hingga sulit untuk berkonsentrasi. Namun perlahan, di antara riuh itu, para murid mulai mendengar sesuatu, detak hati mereka sendiri.
Paman Rio menutup matanya. “Lihatlah ke dalam. Jangan lawan pikiran burukmu, peluklah ia. Air tidak menolak lumpur, tapi membersihkannya dengan sabar.”
Hot Chapters