Hai Om, Aku Calon Istrimu!
tanyanya lagi, lebih lembut.
“Mas Pandu udah punya pacar,” jawabku pelan. “Mereka udah jalan enam bulan. Namanya Nindia. Orang Klaten. Dokter umum. Cantik, baik, kalem pol.”
Om Kais hanya mengangguk, menunggu lanjutanku.
“Tapi—” aku menggigit bibir, ragu. “Mereka beda keyakinan.”
Mobil sempat terasa hening beberapa detik. Om Kais menatap ke depan, tapi genggaman tangannya mengerat halus—seolah bilang aku boleh cerita apa pun.