Antara Ambisi dan Cinta
Siang harinya, saat makan siang dibawakan ke ruangannya oleh staf pantry, Cantika hanya menatapnya sejenak lalu menyingkirkannya.
Perutnya lapar. Tapi pikirannya terlalu penuh.
Bukan hanya soal proyek. Tapi soal reputasi. Soal pembuktian. Soal janji lama pada daddy Kenzo, pada dirinya sendiri—bahwa ia bisa menjadi CEO, bukan karena suaminya, bukan karena statusnya sebagai Maverick, tapi karena dirinya sendiri.
“Sorry Za, tapi aku enggak bisa berhenti. Aku hidup untuk menjadi CEO.”