Ada sesuatu yang begitu menggigit dari cara 'Tentang Rindu' menggambarkan kehilangan dan kerinduan yang tak terucapkan. Novel terbaru karya penulis Indonesia ini bercerita tentang Alika, seorang kurator seni yang kembali ke kampung halamannya setelah sepuluh tahun mengembara di Eropa. Kepulangannya bukan sekadar nostalgia, tapi juga upaya menyelesaikan puzzle hubungannya dengan Arka, sahabat sekaligus cinta pertamanya yang meninggal dalam kecelakaan tragis. Di antara dinding galeri seni dan aroma kopi pagi, Alika menyadari bahwa rindu bukan hanya tentang orang yang pergi, tapi juga tentang versi diri sendiri yang ikut terkubur bersamanya.
Cerita berjalan dengan tempo lambat namun penuh muatan emosional, seperti ketika Alika menemukan sketsa-sketsa Arka tersembunyi di balik lukisan keluarga mereka. Setiap coretan pensil menjadi portal waktu yang mengantarnya pada memori-memori kecil: dari debat tentang makna seni kontemporer di warung tenda, hingga malam ketika Arka pertama kali mengakui perasaannya di bawah hujan. Justru dalam keheningan arsip-arsip seni itulah dialog antara mereka terus hidup. Penulis sangat piawai memainkan simbol-simbol sederhana—sebuah jas hujan kuning, lagu 'Kau adalah' yang selalu diputar di radio tua, atau bahkan bau cat minyak—untuk mengail kenangan yang paling dalam.
Yang menarik, novel ini tidak terjebak dalam romantisme klise. Rindu di sini hadir dalam bentuk yang lebih kompleks: ketika Alika harus berdamai dengan kenyataan bahwa Arka mungkin bukan pujaan hati yang sempurna seperti dalam ingatannya. Adegan ketika ia menemukan surat cinta Arka untuk perempuan lain menjadi titik balik yang menghancurkan sekaligus membebaskan. Justru dalam ketidaksempurnaan itulah 'Tentang Rindu' menemukan kekuatannya—sebuah pengakuan bahwa kita sering merindukan gagasan tentang seseorang, bukan orang itu sendiri.
Di antara semua keindahan bahasanya, novel ini sesungguhnya adalah cerita tentang hadiah terakhir yang diberikan Arka kepada Alika: keberanian untuk tidak terjebak dalam masa lalu. Adegan penutup ketika Alika akhirnya memamerkan karya kolaborasinya dengan Arka—sebuah instalasi dari surat-surat yang tidak pernah terkirim—terasa seperti pelukan hangat bagi siapa pun yang pernah kehilangan. Pasalnya, rindu dalam novel ini bukanlah kuburan, melainkan museum tempat kita belajar merayakan kepergian dengan cara yang lebih hidup.