Novel 'Salah Asuhan' karya Abdoel Moeis ini benar-benar menggambarkan konflik batin yang dalam tentang identitas dan cinta. Ceritanya berpusat pada Hanafi, seorang pemuda Minang yang dididik dengan gaya Belanda oleh orang tuanya, membuatnya terasing dari budaya sendiri. Dia jatuh cinta pada Corrie, gadis Belanda, tapi hubungan mereka penuh dengan benturan budaya dan prasangka sosial. Hanafi merasa terjebak di antara dua dunia—tidak diterima sepenuhnya oleh masyarakat Belanda maupun oleh masyarakat Minang.
Yang bikin novel ini menarik adalah bagaimana Moeis menggambarkan pergolakan Hanafi dengan sangat manusiawi. Ada adegan di mana Hanafi mencoba membuktikan diri pada keluarga Corrie, tapi justru dipermalukan karena 'kebiasaan Timur'-nya. Endingnya tragis: Hanafi kehilangan segalanya, termasuk Corrie, dan akhirnya menyadari bahwa pencarian identitasnya selama ini salah arah. Novel ini bukan cuma kisah cinta, tapi juga kritik sosial halus terhadap kolonialisme dan dampaknya pada generasi muda pribumi.