Ketika Istriku Minta Talak
Keringat sebesar biji jangung merembes di kening, leher dan bahunya yang hanya dibalut kaus kutang.
“Om Rahmad kenapa?” tanyaku kaget.
“Gak apa-apa, obat Om sudah habis. Nanti mungkin di bawa oleh Danu, sepulang kerja.”
“Oh, obat Om habis?”
“Ya, Renata. Om juga gak punya uang untuk tebus lagi ke apotik. Mudah-mudahan nanti di bawa Danu.”
“Hem, semoga. Udah, ya, Om. Permisi!”