Terjebak Dendam sang Pewaris Kejam
“Apa kau bilang?”
“Waktu itu, saya masih duduk di bangku SMA. Di hari itu, tepat ayah saya mengalami kebangkrutan. Dan kami harus keluar dari rumah untuk pindah. Saya merasa sangat sedih waktu itu, karena saya juga harus putus sekolah. Saya menangis sendirian di sebuah taman, dan tiba-tiba ada seorang pria berseragam SMA yang datang menghampiri saya.” Aara tersenyum ketika menceritakan hal itu, “dia yang mengetahui saya tengah menangis memberikan sapu tangannya pada saya. Kami lalu mengobrol sebentar, dia menghibur saya tapi dari kata-katanya itu. Sepertinya dia juga baru saja terluka. Tapi waktu saya senang, karena ada seseorang yang menemani saya di saat saya tengah terpuruk.”
Hot Chapters