DIAMNYA ISTRIKU
ujarku lagi.
"Dia berjalan memasuki gapura, setelah sedikit menjauh, aku mengikutinya. Tepat sampai di depan kosan Novi, Hendra bersembunyi, di samping pos ronda warga. Tapi Pos Ronda itu kosong. Sementara aku bersembunyi di balik semak. Aku pikir mungkin Hendra sedang menunggu Novi. Lima menit kemudian, hujan turun sangat lebat. Petir bersahutan. Angin juga bertiup kencang. Luna lewat, gadis itu sedang melamun. Pikirannya kosong, dia menangis. Mungkin tidak menyadari kalau hujan turun. Entah apa penyebabnya, tapi dia seperti tengah wanita yang sedang patah hati karena cinta."
"Rey! Ternyata kamu mencintai, Indah?" lirihnya masih dapat kudengar.