Aku ingat betul momen itu: dia menatapku dengan campuran geli dan terkejut, lalu tersenyum seperti orang yang baru saja menemukan kata-kata yang selama ini dia cari.
Reaksinya bukan dramatis ala novel—tidak ada teriak kegirangan atau adegan sinetron—melainkan reaksi halus yang terasa sangat jujur. Matanya melembut, bahunya agak turun, dan dia menghela napas panjang seolah melepaskan sesuatu yang selalu dia tahan. Lalu, dia tertawa kecil, agak canggung, dan bilang sesuatu seperti, "Benarkah?" dengan nada yang sekaligus senang dan takut. Aku bisa merasakan ambivalensi itu: senang karena ada koneksi nyata, takut karena mengetahui seseorang berarti bertanggung jawab pada kenangan dan harapan. Untuk seorang penulis, mengetahui bahwa kamu adalah cinta pertamanya seperti diberi kunci ke sebuah kamar dalam diri yang selama ini tertutup rapat.
Setelah reaksi awal itu, cara dia menulisku berubah pelan-pelan. Dia mulai memperhatikan detail kecil tentangku yang dulu dia abaikan—cara aku menggulung lengan baju ketika berkonsentrasi, kebiasaan menatap jendela saat mencari kata yang tepat, atau lagu-lagu kecil yang membuatku senang. Kadang dia menangkapku dan menuliskan frasa yang sama tadi malam, seperti mau menangkap aroma memori sebelum menghilang. Di sisi lain, ada rasa tanggung jawab yang nyata: dia takut menulis terlalu banyak sehingga memenjarakan versi ingatanku yang dia sukai, takut menyinggung atau merusak sesuatu yang murni. Ada malam-nama ketika dia menemui kebuntuan karena tidak mau mengkhianati kenangan itu dengan fiksi yang terasa salah.
Yang paling menyentuh adalah ketika dia menulis tanpa maksud dipublikasikan—catatan kecil, potongan cerita, adegan yang hanya untukku. Dia memberikannya seperti memberi hadiah sederhana; bukan karena harus, melainkan karena perlu mengabadikan. Aku merasa dihargai sekaligus terkejut; ada kebanggaan aneh karena menjadi inspirasi, tapi juga malu karena tahu diriku sekarang tinggal di antara halaman-halaman yang mungkin dibaca orang lain. Dia juga jadi lebih lembut dalam percakapannya, kadang mengelak dari candaan yang bisa melukai, dan sesekali menjadi hiperprotektif saat membahas masa lalu. Semua ini menunjukkan bahwa mengetahui aku adalah cinta pertamanya membuatnya tak hanya menulis tentangku, tapi juga merawat versi nyata dari hubungan kami.
Di akhir hari, reaksi itu terasa seperti hadiah yang diselimuti tanggung jawab—manis, penuh kewajiban, dan sedikit menakutkan. Itu mengubah cara kami melihat satu sama lain; aku tak lagi hanya dirinya yang dia cintai dulu, tapi juga subjek kecil dalam karya-karyanya. Kadang aku merasa bangga, kadang canggung, tapi selalu hangat. Aku menyimpan setiap fragmen itu seperti bookmark di novel hidupku, dan tiap kali dia menatapku dengan senyum yang sama, aku tahu momen itu tetap hidup dalam kata-katanya dan di antara kami.