Pembantu Rasa Nyonya
“Rima tidak apa-apa ditinggal bersama Mama?”
Bukannya memberi penenangan, Papi justru mengangkat kedua bahunya. “Lihat saja nanti. Mungkin Rima keluar dengan rambut acak-acakkan dan baju compang-camping. Masih lumayan, sih, daripada berdarah-darah dan patah tulang. Tahu kan, Mamamu itu paduan antara herbivora dan karnivora.”
Sejenak aku menatap wajah Papi yang tidak menampilkan senyuman. Aku merasa dia serius, tapi ucapan yang terakhir memantik senyumanku.