Lelaki Pilihan Surga
“Kei, kamu masih punya ibu dan ayah. Berbaktilah pada mereka. Karena mereka adalah hartamu yang paling berharga. Jangan biarkan, dirimu tumbuh dengan penyesalan sepertiku. Sungguh, itu berat dan sangat menyesakkan, Kei.
“Tidak ada sesak yang begitu melebihi, penyesalanmu akan dosa di masa lalu. Penyesalan, mengabaikan mereka yang selalu ada untukmu.”
Kei mengangguk, dengan mata yang berkaca-kaca.
“Aku kehilangan ibu dan ayah, saat aku belum bisa melakukan apapun untuk mereka, Kei,” tutur Fajar, dengan suara semakin serak. Dia menghapus bulir-bulir air mata, yang melekat di pipinya.
Sikat na Kabanata