BIARKAN AKU PERGI KETIKA DIRIMU MENDUA
Aku segera bangkit dan berlari ke toilet lagi, karena merasa ada respons dalam perutku yang minta untuk segera dikeluarkan.
“Hoek ... hoek ... hoek!" Tak ada sesuatu yang dapat kukeluarkan. Tapi, rasa mual tak kunjung hilang.
“Santai, Mas. Nggak papa. Cuma kepalaku sedikit pusing saja.” Aku mencoba menenangkan Mas Bayu yang memperhatikanku dengan mimik cemas. Bahkan, Mas Bayu mengikutiku ke toilet, lalu kembali ke kasur lagi, mirip anak kecil yang takut ditinggal induknya.