Misteri Uang di Tas Sekolah Anakku
Setelah semuanya terbungkus rapi, kami menjajarkan plastik-plastik itu di depan toko.
Aku menuliskan sebuah papan besar dengan tulisan tebal:
"Silakan diambil, satu orang satu plastik. GRATIS."
Aku dan Mas Halbi duduk menunggu di kursi kayu di depan toko, berharap orang-orang akan mulai datang dan mengambil sembako itu.
Namun, satu jam berlalu, tak ada satu pun yang datang.
Dua jam. Matahari sudah semakin tinggi, dan tetap tak ada yang mendekat. Bahkan, orang-orang yang lewat di depan toko kami sengaja mempercepat langkah mereka, seolah takut hanya dengan melihat toko kami.