Imamku dari Seoul
Shin pun melepaskan Sabiya, mereka sudah duduk berdua di tepi ranjang.
"Aku Shin-man, bukan Ikan A-Shin."
"Serah!" kata Sabiya sambil membuang muka.
"Baiklah, karena kamu udah milih kencan, aku ingin mulai saat ini sampai selesai kencan, kamu harus tersenyum untukku," Shin menambah permintaannya lagi.
"Ha? Ga!" bantah Sabiya gugup, mana bisa dia tersenyum paksa.
"Oh, berarti, opsi kedua ya? Tidur?" kekeh Shin.
Hot Chapters